Kamis, 01 September 2016

Pentingnya Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah


Sebagai judul postingan dalam mengikuti ODOP (One Day One Post) hari ke-4, Kamis, 1 September 2016 aku mengusung tema hari ini sebagai judul postinganku. Kenapa? Karena menurutku pribadi, pada zaman globalisasi ini pendidikan budi pekerti masih sangat dibutuhkan untuk diterapkan di Sekolah. Dengan adanya kemajuand teknologi yang tidak terbendung lagi kecnggihannya, siapa pun yang mengerti tentang gadget pasti akan menjadi penasaran untuk meng-klak-klik apa saja yang mereka inginkan. Di sinilah terletak keteguhan hati untukk menghindari hal-hal yang menurut pikiran mereka tidak layak untuk dilihat. Hal keteguhan hati yang sangat erat kaitannya dengan keimanan yang dimiliki. 

Dulu ketika anak-anakku bersekolah sekitar tahun 1982, pasti para bloggers tercinta banyak yang belum lahir, ya, hehe... Nah pada tahun-tahun itu anak-anakku sekolah di TK (Taman Kanak-Kanak). Wajarlah kalau mereka masih ingin diantar ke sekolah, baik oleh Ibu atau si Mbak. Ketika aku melihat aktivitas antara guru dan anak murid sangat menyenangkan. Kenapa?

Karena ketika murid TK berbaris untuk masuk ke kelas, mereka mencium tangan Ibu atau Bapak Guru yang sudah bersiap-siap berdiri di pintu masuk. Sebuah pemandangan yang ada kaitannya dengan lahirnya sebuah budi pekerti. Begitu pada saat mereka pulang sekolah. Karena setiap hari mereka melakukan hal yang itu-itu juga selama hari-hari sekolah, sudah pasti akan muncul kebiasaan yang baik. Sesampainya di rumah mereka pun akan mencium tangan ibu dan ayah atau nenek mereka secara santun. Walau pun sebenarnya budaya cium tangan sangat mengakar di keluargaku. Bahkan hingga mereka dewasa, memiliki anak-anak, tetap kebiasaan yang baik ini dilakukan. 

Budi pekerti yang baik akan melahirkan akhlak yang baik. Akhlak akan mengajarkan kepada mereka tentang mana yang baik dan mana yang buruk, mana perbuatan baik dan yang mana perbuatan yang harus dijauhi. Seandainya pendidikan budi pekerti ini dihapuskan di sekolah, apa jadinya dengan pola kehidupan para generasi muda di masa yang akan datang. Sedangkan diberi pelajaran budi pekerti saja, seiring berjalannya waktu dengan kemajuan teknologi yang tak terbendung, sudah menyebabkan anak-anak banyak meniru gaya kehidupan orang-orang dari dunia bagian Barat, modernisasi telah melanda kehidupan anak-anak dan remaja, bahkan para orang tua di zaman ini.

Pendidikan budi pekerti masih sangat dibutuhkan dan harus dimasukkan dalam kurikulum sekolah tanpa memedulikan tingkat sekolah. Pendidikan budi pekerti tidak hanya terbatas pada kanak-kanak, anak-anak SD, SMP atau pun SMA, tapi juga secara tidak langsung harus dihayati, didukung oleh para orang tua, pendidik, tokoh-tokoh masyarakat dan mungkin saja para elit pollitik. Sekali mereka mengenal tentang arti budi pekerja, maka hal ini akan menjadi rem yang pakem bagi mereka untuk menjauh dari melakukan segala perbuatan yang tidak sejalan dengan akhlak dan prilaku yang baik. Teladan yang baik harus diperlihatkan oleh para orang tua, para pendidik, yang akan menjadi contoh bagi para anak didik.

Aku bangga pada anakku karena memasukkan  anaknya (cucuku) ke sebuah sekolah yang memberikan pelajaran Agama Islam -- pelajaran Akidah dan Akhlak. Melalui mata pelajaran ini merea diajarkan untuk selalu mengingat kebesaran Allah SWT melalui pengucapan kalimat Tayibah -- Alhamdulillah dan Allahu Akbar. Secara tidak langsung pengulangan-pengulangan yang dilakukan setiap hari di sekolah akan terbawa dalam kehidupan keseharian mereka di mana pun mereka berada. Mereka akan selalu mengucapkan Alhamdulillah pada kesempatan apa pun untuk menunjukkan rasa bersyukur pada kebesaran Allah akan segala ciptaanNya. Hal ini akan membimbing mereka ke arah memiliki budi pekerti yang baik -- takut untuk berbuat sesuatu yang dilarang oleh Allah. Budi pekerti akan terbentuk dengan memberikan pelajaran agama yang kuat baik di sekolah mau pun di rumah.

Sehubungan dengan maraknya kekerasan terhadap anak, baik di sekolah, di rumah tangga, atau pun pengeroyokan atau tawuran yang jauh meninggalkan norma-norma, agama, budi pekerti, akhlak dan agama. Semua itu seolah sudah tidak ada lagi dalam kehidupan secara manusiawi. Melihat hal ini dengan serta merta kita akan berpikir bahwa pola keagamaan telah jauh bergeser, sehingga menggoyahkan keimanan dan timbullah perilaku tanpa mengedepankan akhlak dan budi pekerti telah menjadikannya manusia yang tanpa belas kasihan terhadap sesama. Dalam hal ini pendidikan agama yang diterapkan sejak dini harus diperketat pelaksanaannya, baik di rumah, di sekolah atau dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan menimbulkan keimanan yang kuat dan menjauhkan siapa pun dari perbuatan yang melampaui batas prikemanusiaan, seperti yang akhir-akhir ini sangat menonjol terjadi di mana mana.

Pentingnya Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah harus diterapkan lebih mendalam dan dipertegas lagi, baik melalui teladan yang harus diperlihatkan oleh orang tua, dan para pendidik. Ketegasan, kedisplinan harus ditegakkan sejak dini untuk membangun generasi penerus yang berjiwa besar, tegas, disiplin dan mengusung kejujuran di segala pola kehidupannya. Jangan lupa, anak-anak didik di tingkat apa pun, selama mereka masih bersekolah tetap membutuhkan kasih sayang, perhatiian, perlakuan yang tidak memihak dari orang tua dan para pendidik. Karena tegas, disiplin jauh dari kekerasan para pendidik akan melahirkan generasi yang mumpuni dan percaya diri. Aamiin, ya, Robbal aalamiin.






















REFERENCES
http://www.kompasiana.com/ripto/masih-perlukah-pendidikan-budi-pekerti-di-sekolah_5500dc56a33311d37251269a

10 komentar:

  1. Setuju bund, klo tegas Disiplin bkn pakai kekerasan. Budi pekerti penting bgt ya bun :)

    BalasHapus
  2. Terima kasih udah Se7 sama bunda. Makasih juga kunjungan Suciati Cristina ke blog bunda yang hampir lumutan, hehe...

    BalasHapus
  3. Sekarang beberapa orang tua kalau menyekolahkan anak di TK fokusnya anak harus cepat bisa calistung, jadi ada yang protes saat menyekolahkan anak di TK yg SPPnya lumayan tapi kok materi calistung masih sedikit. Sementara sekolah metodenya lebih banyak ajarkan budi pekerti ke anak juga belajar lewat permainan2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin ada juga yang seperti itu, tapi alhamdulillah cucu bunda masuk di sekolah yang mengedepankan pelajaran budi pekerti melalui Akikad dan Akhlak.

      Hapus
  4. setuju banget mbak. kalo saya pribadi soal pintar pelajaran itu bisa menysusul. yang penting akhlak dan kepribadiannya harus kita bentuk sejak dini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. diusahakan kedua-duanya berjalan seimbang, itulah perlunya keterliatan orang tua dalam menerapkan budi pekerti.

      Hapus
  5. Saya juga setuju pastinya dengan ulasan, Bunda. Miris ya Bund kalo lihat generasi sekarang. Saliiim Bund...-)

    BalasHapus
  6. Setuju Bunda, apalagi tipe anak saya yang di sekolah sampai sore banget, jam 4an baru pulang. Kalau di sekolah ga ada budi pekerti bisa gawat.

    BalasHapus
  7. Selain pelajaran disekloah, pergaulan, lingkungn serta keluarga juga sangat mempengaruhi akhlaq seoarang anak

    BalasHapus
  8. Betul sekali karena itu bekal keimanan sejak dini perlu terus ditempa. Terima kasih kunjungan Badrut Tamam ke blog bunda.


    BalasHapus