Kamis, 19 Mei 2016

Satu Cara Menghadapi Kesendirian Itu Bernama Ikhlas

Sumber: cahayatausiah.blogspot.com
Tulisan di blog ini untuk memenuhi janjiku seperti yang telah kutulis di sini tentang aku tidak akan, sebisa mungkin, membuang blog lamaku. Aku harus mencari ide terus agar semua blogku yang lama bisa aku update, walau pun tidak dalam waktu yang teratur. Pastinya. Tampilan blog juga belum selesai dirapihkan, belum ada lamannya, hehe...



Ya, betul sekali (menurutku) ikhlas adalah satu cara untuk menerima dan menghadapi kesendirian yang kita alami di masa tua. Seperti kesendirianku sekarang, aku nikmati betul dengan penuh rasa bersyukur masih bisa bergerak ke sana ke mari. Masih bisa mengunjungi anak-cucu yang berjarak jauh dari rumah yang aku tempati. Rumahku yang Home Sweet Home itu. Tentu saja dengan syarat harus dijemput atau paling tidak dipesankan taxi dengan reimbursement nantinya, hehe... Ya, iyalah, uangku kan dari anak-anak juga. Kalo gak diganti kan bisa kacau tuh catatan belanja di Pamulang.

Beruntung sekali aku memiliki anak lebih dari satu, sehingga kehilangan seorang permata hati masih ada tiga orang intan permata yang bisa aku jelang di saat aku merindukan cucu. Bukan berarti aku tidak merindukan ibunya (anakku) lho! Tapi itulah, hukum alam telah membuat hati seorang nenek lebih merindukan cucu ketimbang anak. Kenapa aku katakan beruntung? Aku bisa membuat jadwal untuk bersama cucu-cucuku plus tentunya anak-anakku silih berganti, misalnya beberapa hari di anak perempuan tertua, sekian hari di rumah anak perempuanku kedua dan sekian hari pula untuk mengunjungi rumah si Bontot yang harus aku tengok secara berkala. Alhasil, aku akan kembali ke rumahku setelah paling sedikit tiga mingguan. Waktu yang terbilang lama juga untuk meninggalkan rumah Pamulang. Tapi itulah dinamika hidupku yang membuat aku terlepas dari kejenuhan. Aamiin.

Belum lama ini aku menghabiskan waktu di rumah anak perempuanku yang tertua di Bekasi Barat. Alamaa...rasanya walau pun naik taksi koq gak sampe-sampe, ya. Dan argo sudah menunjukkan di atas 200ratusan. Karena alamatnya agak susah untuk dijelang, maka taksi menunggu di Pomp Bensin dekat McDonald. Cucuku akan menjemputku dan kami akan konvoi menuju rumahnya, hehe...istilah konvoi boleh donk ya dipake di sini. Soalnya cucuku mengendarai motor, sedangkan aku mengiringinya dengan taksi. Jelas,  tidak bisa bersamanya karena  perlengkapan perang online-ku selalu aku bawa kalau bermalam di mana pun. Nah, jadilah uang taksi bertambah jadi 250ribu. 

"It's ok, Mom," kata anakku. "Ada reimbursementnya," sambungnya lagi.

Hehe... Asyiiik... Pulangnya pun dikasih "sangu" plus uang taksi lagi tuh.

Bayangkan, sekali kunjungan ke Bekasi Barat dari Pamulang p.p. setengah jeti, booo... diluar uang tol dan tip buat drivernya lho... Sekali-sekali gapapa kan, ya, uang anaknya dikeruk sama Mamanya untuk mengobati kangen ketemu cucu. Keberkahan ada di sana. Allah akan melipat-gandakan rezeki anakku, Insya Allah, karena sudah bisa menyenangkan hati Mamanya yang lagi kangen berat sama cucu.

Cucuku ini setiap kali dia memelukku pasti dia bilang: "I love you, Bunda. So much." Ah, senangnya hati ini mendengar ucapannya sambil memelukku dengan erat. 

"I wish you will stay longer," ujarnya ketika aku pamitan. Seharusnya kan "I wish you to stay longer." Tapi tetap aku salut pada rasa percaya dirinya yang kuat. Ya, ampuuun..., bahasa Inggrisnya itu lho yang bikin aku gemes dan tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipinya yang gembil dan melihat matanya yang cemerlang. Cucuku belajar bahasa Inggris dari film-film di Youtube yang ditontonnya. Film-film yang berisi games bervariasi. Selama bersamanya aku jadi terbius untuk nonton IN SIDE OUT yang betul-betul menarik
Bangga donk ada foto cucuku di sini (dok.nina chairul)
Dengan antusias Cucuku memperhatikan ucapan dan intonasi para pelakon yang menjadi tokoh-tokoh In Side Out  Aku sendiri baru pertama kali itu menontonnya, karena di rumah Pamulang kan gak berlangganan Indiehome, hehe...Yang ada siaran lokal biasa. Tapi cukuplah untuk hiburan mengusir sunyi ketika aku di rumah. Btw, Cucuku dan Mamanya juga seringkali berbahasa Inggris dalam kesehariannya. Mau betul atau gak pronunciationnya, yang penting cucuku ini selalu percaya diri ketika mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Kerennya cucuku!

Kembali kepada Satu Cara Menghadapi Kesendirian Itu Bernama Ikhlas. Kalau saja aku tidak mampu untuk ikhlas, pastilah aku bisa-bisa jatuh sakit karena memendam rasa kangen kepada anak cucu yang tinggal berjauhan. Kenyataan yang harus dihadapi, mereka sudah membentuk rumah-tangganya sendiri. Aku harus ikhlas, bahkan harus berbahagia dan bahagia telah melepasnya untuk membangun rumah tangga. Melihat kehidupan mereka yang cukup rukun dan bahagia dengan anak-anak yang sehat dan pintar rasa ikhlas itu semakin tebal melekat di dada.
Sumber: vemale.com
Sebagai orangtua, hari gini, tidak perlu mengharapkan untuk dikunjungi anak-cucu lebih dahulu. Mengalah tak menjadi masalah, kalau memang waktu yang kita miliki bisa kita luangkan untuk mengunjungi mereka, kenapa gak? Tak perlu gengsi koq untuk berkunjung ke rumah anak-cucu-menantu, karena kedatangan kita ke rumahnya bukanlah untuk menyusahkan mereka. Bahkan mungkin (?) mereka malah bersyukur menerima kedatangan kita. Positive thinking is a must dalam situasi seperti ini.

Lho? Koq aku membicarakan hal ini menggunakan kata "kita" -- kenapa aku berpendapat banyak para blogger yang sudah mempunyai menantu dan cucu? Seandainya pun tidak seperti itu, setidaknya, banyak blogger yang masih memiliki anak (anak-anak yang tinggalnya berjauhan, kan? Mungkin ada yang masih sekolah atau kuliah dan tinggal berjauhan (misalnya kost); tentu hanya ikhlas untuk bersabar menunggunya datang berkunjung yang bisa kita lakukan atau kita yang harus ikhlas menyediakan waktu untuk mengunjunginya. As simple as that. 

Selama masih ada ikhlas yang terselip dalam dada setiap insan Allah, maka serumit apa pun masalah yang kita hadapi, pastilah kita mampu menghadapinya dengan keikhlasan yang dengan sendirinya akan muncul dari dalam hati yang paling dalam.

Dengan ikhlas kita bisa melakukan apa saja yang bisa membuat hati anak atau bahkan orang lain bahagia atau setidaknya hatinya senang. Misalnya yang telah aku lakukan ketika bermalam di rumah anakku beberapa hari yang lalu. Sepeninggal mereka (anakku dan suaminya) bekerja, juga cucuku yang tertua kuliah, cucu yang kecil sekolah, maka tinggallah aku sendiri di rumah... yang bisa aku lakukan adalah menebar pandangku ke segenap penjuru halaman rumahnya. Pot-pot tanaman yang sudah ditumbuhi rumput liar aku bersihkan, tanpa merubah posisinya. Karena pastilah seleraku berbeda dengan selera anak-menantu dalam penataan pot tanaman di rumah kami masing-masing..

Kembali ke rumahku "My Home Sweet Home" di Pamulang sebelum libur panjang berakhir pun aku ikhlas. Keikhlasaan yang tidak aku buat-buat. Ikhlas yang datang dari hati yang tulus. Di rumah ini banyak kenangaan. Di rumah ini banyak yang harus aku kerjakan sendiri. Dan di rumah ini tugas menantiku. Menata ulang letak furniture pun ikhlas aku melakukannya tanpa bantuan orang lain. Hanya dengan menggeser perlahan letak alat rumah tangga yang sekiranya sudah membosankan mataku memandangnya. Apa sih susahnya. 
Aku dan anakku yang telah menghadapNya (dokpri)
Ikhlas membuatku lepas dari rasa lelah. Ikhlas pula yang membuat hatiku puas, berkeringat, segar, melihat hasilnya aduhai memuaskan hati. Dan Ikhlas disertai senyum (swear, aku selalu senyum sendiri) melihat hasil kerjaku -- melihat pot-pot tanamanku terawat dan terpelihara. Melihat bibit-bibit anakan tanamanku yang mulai bermunculan. Last but not least: Rumahku pun bersih (tentu saja bersih versiku, hehe...)

Mudah-mudahan tulisanku ini mampu menginspirasi siapa saja yang seringkali ber-leha-leha dan memanjakan diri dengan membuang-buang waktu yang bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna. Insya Allah. Yuk, bergeraklah dengan ikhlas.

38 komentar:

  1. nice, Bunda. I feel so alone right now, meski aku belum menginjak usia tua... Ikhlas memang diperlukan sendiri ato rame-rame, di manapun, atau kapan pun. Terima kasih sudah mengingatkan, Bunda. dengan begini kita jadi lebih banyak bersyukur dengan apa yang ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Nisa, memang dalam segala hal kita harus memiliki rasa ikhlas. Terima kasih kunjungan Nisa ke blog bunda.

      Hapus
  2. Bundaaaa.... aku terharu bacanyaaa.. jadi keinget nenekku di bogor.. aahhh #hugs

    Segala sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas pasti dilancarkan semuamya ya bun.

    Semoga bunda selalu sehat dan menjadi inspirasi anak anak bunda.

    Btw, aku sering cerita ke mama mengenai bunda loh. Walaupun aku hanya beberapa kali ketemu bunda tapi bunda menginspirasi banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oya, salam kenal buat Mamanya Ruffie Lucretia, ya. Bogor kan deket tuh, hehe... Makasih ya sudah berkunjung ke blog bunda.

      Hapus
  3. semua orang harus siap ya, untuk sendiri, karena kita gak tahu siapa dulu yang dipanggil Tuhan. Sekarang saja aku sepi banget anak2 gak ada sudah merantau, tinggal berdua suami. Terbayang kalau agk ada suami. ya itu lagi ikhlas . bahagia itu sederhana , kita yg menciptakannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Tira, pada saat tua kita tidak bisa terlalu mengharapkan anak-anak kita untuk terus mendampingi kita, karena mereka sudah punya keluarga-keluarga kecil yang menjadi tanggung-jawabnya.

      Hapus
  4. saat adik saya pergi untuk selamanya, separuh jiwa saya juga ikut pergi..sepiiiii dan sedih yang tak berkesudahan dan akhirnya dengan mengikhlaskan lah yang membuat hati menjadi tenang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allah memang Maha Segalanya, diberi rasa Ikhlas kepada umatNya, tinggal makhluk Allah itu saja yang akhirnya harus bisa mengelola rasa ikhlas itu. Bunda juga begitu sejak kehilangan anak lelaki bunda 2 tahun yang lalu, seperti masih ada dia di rumah bunda. Ikhlas jua yang bisa membendung airmata bunda. Perbanyak do'a untuk almarhum, ya.

      Hapus
  5. Ikut terharu rasanya membayangkan Bunda yang negoisasi dengan rasa sepi. Jadi inget dengan mendiang Nenek (rahimahullaha) dulu juga apa2 sendiri..tapi tetap terlihat bahagia.

    Ternyata kuncinya sukses ya Bunda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya kuncinya ikhlas ya Bunda, semoga sukses terus istiqomah berikhlas ya Bunda sayang

      Hapus
    2. Iya, Ipeh. semoga bunda bisa terus istiqomah. Aamiin. Terima kasih kunjungan Ipeh ke blog bunda.

      Hapus
  6. Bundaaaaa, makasih sharingnya..ikhlas, satu kata yg ajaib hasilnya jika dilakukan. Hiks, saya masih harus terus berusaha nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, apabila Kanianingsih suka membacanya dan yuk, kita sama-sama untuk berusaha terus untuk ikhlas. Terima kasih kunjungan Kanianingsih ke blog bunda.

      Hapus
  7. Emak juga alone tapi tetap tegar walau anaknya keliling terus tugasnya.
    Sekarang sih sudah sepuh sehingga tak banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Saatnya beliau istirahat, ganti yang muda2 yang bekerja.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pakde Cholik, akan tiba juga saatnya bunda istirahat. Beruntung banget Emak punya anak laki-laki seperti Pakde ini. Makasih kunjungan Pakde ke blog bunda.

      Hapus
  8. Bundaaa.... Baca tulisan ini rasanya kyk baca curhatan mana saya sendiri. Hiks hiks

    Makasih sharingnya ya Bundaaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe...memang kenapa, Syam, mamanya tinggal berjauhan, ya? Telpon aja, beliau sudah senang sekali. Pasti itu. Alhamdulillh kalau tulisan bunda manfaat. Terima kasih kunjungan Syamsiah ke blog bunda.

      Hapus
  9. saya terharu, jadi keinget orangtua baca ini, khawatir mereka merasa sendiri. Saya juga sudah berumahtangga, semoga saya juga bisa ikhlas saat ditempa rasa gundah gulana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lidha Maul, orangtua itu cuma mendengar suara di hape aja udah senengnya bukan main. Memang sebaiknya begitu, ikhlas sangat membantu kegundahan kita. Aamiin.

      Hapus
  10. Terharu, membuat semakin rindu dg almh. Nenek :(
    Ya, hampir sama, nenekku dulu sering mengunjungiku meski jaraknya tidak begitu jauh. Selalu ada certia manis bersama nenek 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, eri udiyawati, memang sudah hukum alam,ya, kalo seorang nenek, begitu besar kangennya ke cucu ketimbang ke anak, hehe... Terima kasih kunjungan eri ke blog bunda.

      Hapus
  11. Bundaaa, cucunya pasti bahagia sekali dikunjungi neneknya yang rela datang jauh-jauh. Smoga dibalas pahala. Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih kunjungan Rach Alida Bahawere ke blog bunda.

      Hapus
  12. Bundaaaa... baca ini jadi teringat sm alm.ibuku yg dlu jg sangat sayaaang sm cucu2nya,, aku ga keberatan disebut 'kita' bun.. krn apa yg bunda rasakan saat ini kelak akan kami rasakan juga,, tfs ya bun,, iklas mmg satu pondasi yg membuat kita bahagia,, bahagia terus ya bun,,doakan aku jg bs sprti bunda ttp bs nulis smp tua :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, bunda ikut mendo'akan, merida merry, semoga selalu sehat sampai usia seperti bunda, ya. Terima kasih sudah mampir ke blog bunda.

      Hapus
  13. Sepertinya senang sekali ya bun bisa dikunjungi neneknya saya juga jadi kangen nih pengen dikunjungi nenek tapi nenek saya semua sudah meninggal hmm jadi sedih deh.

    BalasHapus
  14. ikhlas..adalah cara terindah untuk membuat hati lebih damai... semangat,,bunda...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, nova. Maaf, ya, bunda baru nengok blog ini lagi setelah sekian bulan dicuekkin, hehe... Makasih sudah mampir ke sini.

      Hapus
  15. Bunnnn muahal banget 250rb. Ga coba naik gocar atau uber dan sejenisnya?
    Alhamdulillah ya kalo bunda masih aktip melalang buana kesana kemari dan dinanti pula oleh sang cucu. It's priceless.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ratuuu...maafkan bunda, baru berkunjung ke blog sendiri nih setelah sekian bulan dikunjungi Ratu. Iya, belum familiar dengan penggunaan Uber. Tapi kemarin udah nyoba, ternyata jauuuh lebih murah. Makasih kunjungan Ratu ke sini.

      Hapus
  16. Sungguh terkesan dengan postingan ini. Ulasannya sangat menarik. Senang sekali dapat berkunjung ke laman web yang satu ini. Ayo kita upgrade ilmu internet marketing, SEO dan berbagai macam optimasi sosial media pelejit omset. Langsung saja kunjungi laman web kami sboplaza.com ya. Ada kelas online nya juga lho. Terimakasih ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf, baru membalas komentar dari kunjungan Sekolah Bisnis Online hari ini, hehe...setelah hampir dua bulan, ya.Terima kasih kunjungan SBO ke sini. Iya, bunda pengen sekali belajar lebih banyak tentang online aktivitas ini. Baik, akan bunda kunjungi. Sekali lagi terima kasih.

      Hapus
  17. Wah hebat bunda masih aktif kesana kemari, semangat terus bunda, aku juga jd kangen ibuku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harie Khairiah, maaf bunda baru balas komentarnya hari ini. Mentang-mentang blog bunda ini lumutan, jadi jarang ditengokin, hehe... Alhamdulillah masih diberi tenaga oleh Allah Swt. Aamiin. Terima kasih kunjungan Harie ke sini.

      Hapus
  18. Membaca tulisan bunda tentang keihklasan, duh, pengen nabok diri sendiri. Harus lebih banyak belajar lagi akunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduduuu...Evi, jangan ditabok dirinya, tabok aja bunda deh, tapi sama lembaran-lembaran dollar, hhehe... Insya Allah step by step pasti ikhlas itu menyelinap di kalbu Evi. Terima kasih kunjungan Evi ke blog bunda. Maaf untuk keterlambatan response ke komentar Evi, huhuhuuu...

      Hapus
  19. Tulisan bunda selalu bikin aku baper alias bawa perasaan, aku selalu ngikutin alur perasaan yang bunda sampaikan lewat tulisan. Ngomong-ngomong tentang keikhlasan kita memang harus terus berusaha sebaik mungkin untuk ikhlas dalam segala hal. Ini satu-satunya cara untuk bisa bikin tenang hati dalam melakukan apapun ya bunda. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Zia, ah, masa sih bbikin baper. Tapi bunda salut karena itu berarti tulisan bunda meresap ke dalam kalbu pembacanya...#mujisendiri. Makasih kunjungan Zia ke blog bunda, tapi maaf bunda merespon komentar baru hari ini.

      Hapus